Pages

Subscribe:

Jumat, 13 April 2012

sistem pernafasan, pencernaan, dan saraf cacing tanah, cacing hati dan kecoa


Ø  CACING TANAH (Lumbiricus terestris)

           SITEM PERNAPASAN / RESPIRASI  CACING TANAH
Cacing tanah tidak memiliki alat pernafasan khusus maka ia menggunakan permukaan tubuh / kulit-nya sebagai tempat pertukaran O2 / CO2 . Tubuh cacing tertutup oleh selaput bening dan tipis yang disebut kutikula. Kutikula ini selalu lembap dan basah. Karena permukaan kulit (epidermis, pori-pori dorsal) cacing tanah memiliki kelenjar yang berlendir, yang berfungsi membasahi kulitnya tersebut.
Melalui selaput inilah terjadi difusi antara oksigen dan karbondioksida yang kemudian diteruskan kedalam pembuluh darah sehingga kebutuhan oksigen tubuh terpenuhi . Di bawah kulit cacing tanah terdapat kapiler-kapiler darah.. Melalui kapiler  lah ini, oksigen berdifusi masuk, lalu oksigen ditangkap atau diikat oleh  hemoglobin yang terkandung dalam darah cacing untuk selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. Gas hasil respirasi yaitu karbondioksida dikeluarkan dari tubuh juga melalui permukaan kulitnya. Karena respirasi cacing dilakukan melalui permukaan tubuhnya (integument), maka respirasi cacing disebut                        respirasi           integumenter.
Gambar :



Proses pertukaran gas pada permukaan tubuh / kulit cacing tanah
Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Kata ini berasal dari bahasa Latin "integumentum", yang berarti "penutup". Pertukaran gas-gas pada cacing lebih mudah terjadi pada kulit yang lembab, sehingga cacing hidup di tempat yang lembab. Habitat yang lembab akan menjaga permukaan di tubuhnya tetap basah (lembab). Sebanyak 85 % dari berat tubuh cacing tanah berupa air, sehingga sangatlah penting untuk menjaga media pemeliharaan tetap lembab (kelembaban 15 - 30 %). Tubuh cacing mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan air dengan mempertahankan kelembaban di permukan tubuh dan mencegah kehilangan air yang berlebihan. cacing yang terdehidrasi akan kehilangan sebagian besar berat tubuhnya dan tetap hidup walaupun kehilangan 70 - 75 % kandungan air tubuh. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa cacing tanah untuk bermigrasi ke media yang lebih cocok dan diedarkan oleh sistem peredaran darah. Sebaliknya, karbon dioksida yang terkandung dalam darah dilepaskan dan berdifusi keluar tubuh.

SYSTEM SARAF CACING TANAH


Sistem saraf pada cacing tanah memiliki sistem saraf yang sederhana namun sensitif. Walaupun sederhana tapi sudah mempunyai perkembangan sistem saraf yang lebih maju yaitu telah terbentuknya ganglia segmental sepanjang tubuhnya. Ganglia segmental tersebut dihubungkan dengan tali saraf ventral.
 Sistem saraf cacing tanah disebut susunan saraf tangga tali, yaitu berupa sederetan ganglion yang terdapat pada setiap ruas tubuhnya. Ganglion satu dengan ganglion yang lain dihubungkan oleh benang-benang saraf yang memanjang disepanjang poros tubuhnya. Ganglion cacing juga dibedakan atas ganglion kepala, ganglion bawah kerongkongan, dan ganglion ruas-ruas badan.
System saraf cacing tanah terletak disebelah dorsal pharynx di dalam segmen yang ke 3 dan terdiri atas :
a.       Ganglion cerebrale yang tersusun atas 2 kelompok sel-sel saraf dengan commisura
b.      Berkas saraf ventralis dengan cabang-cabangnya. Ganglion cerebrale terletak di sebelah dorsal pharynx, di dalam segmen ke 3.

Dari tiap kelompok sel-sel tersebut terdapat:
a.       Saraf-saraf yang menginervasi daerah mulut dan berpangkal pada ujung anterior tiap kelompok sel-sel tersebut
b.      Cabang saraf yang menuju ke ventral dan melingkari pharynx. Saraf ini disebut commisura circum pharyngeal yang berhubungan dengan berkas saraf ventralis
Gambar :






Ganglion supraoesofagus (sub pharyngeal ) yang disebut juga otak fungsinya masih tetap sebagai sebuah stasiun relay sensoris dari reseptor yang peka terhadap cahaya, sentuhan, dan zat kimia pada permukaan tubuh disekitarnya (bagian muka). Otak terletak pada ruas ke-3 di bagian dorsal pharing, dan memiliki 3 pasang saraf lateral.  Ganglion tersebut dihubungkan dengan sepasang alat penghubung dengan sepasang ganglion sub pharyngeal yang terletak di bawah pharynx . dari situ akan menjadi batang saraf perifer yang terdiri atas saraf afferent dan saraf efferent. Affrennt timbul dari sel saraf motoris , sedangkan saraf yang bersala darinsel saraf pada epidermis berfungsi sebagai saraf sensoris .
Tiap ganglion mempunyai fungsi sebagai pusat yang menerima impuls dari saraf sensorik dari reseptor kulit yang ada disekitarnya. Selain itu terdapat serabut saraf berukuran besar yang menyebabkan otot longitudinal pada semua ruas berkontraksi bersama-sama.
ALAT INDERA :
Cacing tanah tidak memiliki mata dan telinga , tetapi di tubuhnya terdapat prostomium. Prostomium ini merupakan organ syaraf perasa dan berbentuk seperti bibir. Organ ini terbentuk dari tonjolan daging yang dapat menutupi lubang mulut. Prostomium terdapat pada bagian depan tubuhnya. Adanya prostomium ini membuat cacing tanah peka terhadap cahay dan benda-benda di sekelilingnya. Itulah sebabnya cacing tanah dapat menemukan bahan organik yang menjadi makanannya walaupun tidak memiliki mata .

      SYSTEM PENCERNAAN CACING TANAH

System pencernaan pada cacing tanah sudah sempurna. Alat pencernaannya seperti mulut terletak dalam rongga oris atau rongga buccale pada ruas 1-3, kemudian pharynx terdapat atau terletak pada segmen (ruas) ke 4 dan ke 5. Pharynx bersifat muscular dan berguna untuk mengisap partikel-partikel makanan. Esophagus terletak di ujung pharynx memanjang dari segmen ke 6 sampai segmen ke 14. Proventriculus merupakan bagian ujung esophagus yang membesar, dan dibagian ini makanan di simpan, dinding proventriculus sendiri tipis. Ventriculus terletak di dalam segmen ke 17-18 bersifat muscular dan berguna untuk mencerna makanan. Intestine  adalah merupakan lanjutan  ke ujung dari ventriculus . dinding intestine bagian dorsal melekuk ke dalam lumen intestine dan bagian ujung lekukan ini membesar, sehingga terbentuklah banguna seperti kantong. Banhunan ini disebut typhlosole. Typhlosole ini berguna untuk memperluas permukaan intestine sehingga dapat mengabsorbsi sari-sari makanan lebih banyak.
Gambar :



Makanan cacing tanah terdiri atas sisa-sisa hewan atau tanaman (tanah humus). Cacing tanah mencari makanan di luar liang pada saat malam hari. Makanan diambil melalui mulutnya , kemudian masuk ke dalam esophagus dan kemudian  tercampur dengan cairan hasil kelenjar sekresi kelenjar kapur (calciferous glands) yang terdapat pada dinding esophagus itu. Cairan ini bersifat alkalis akan tetapi fungsinya yang tepat belum diketahui. Ada pendapat yang mengatakan mungkin cairan ini berfungsi menetralkan makanan cacing tanah yang bersifat asam. Selanjutnya dari esophagus, makanan lalu masuk ke dalam proventriculus yang merupakan tempat penyimpanan makanan sementara. Kemudian makanan masuk ked lam ventriculus. Di sini makanan dicerna menjadi partikel-partikel yang halus. Dari ventriculus makanan lalu masuk ke dalam intestine. Di dalam intestine, partikel-partikel makanan tadi akan dicerna lebih lanjut, sehingga menjadi substansi-substansi yang lebih kecil, yang dapat di absorbs oleh dinding intestine tersebut. Dinding intestine mengandung kelenjar-kelenjar yang menghasilkan enzim. Karena pengaruh enzim ini makanan tadi dicerna menjadi monosakarida, asam lemak, dam gliserol dan asam amino yang siap di absorbs.

Senyawa-senyawa monosakarida, asam  lemak dan gliserol serta asam amino diabrorbsi oleh dinding intestine dan selanjutnya bersama-sam dengan sirkulasi darah di angkut keseluruh bagian tubuh cacing tanah. Pada saat cacing tanah mengambil makanan melalui mulutnya, ikut juga termakan sejumlah partikel-partikel tanah. Kemudian sisa-sisa makanan beserta partikel-partikel tadi dikeluarkan melaui anus dan diletakkan di atas permukaan tanah di dekat lubang/liang tempat cacing tanah itu berada.

Ø  KECOA

SISTEM PERNAPASAN/RESPIRASI KECOA
System respirasi pada kecoa yaitu menggunakan system trackea yang pada umumnya sama dengan sitem pernapasan pada insecta lainnya. System respirasi pada kecoa terdiri atas susunan pipa-pipa udara atau trachea yang bercabang-cabang membentuk anyaman yang membawa udara ke seluruh bagian tubuh. Trachea terdiri atas selapis sel yang berkhitin. Batang pokok trachea membentuk penebalan serupa spiral untuk mencegah rusaknya trachea dari kerusakan akibat gerakan dari bagian tubuh hewan. Sebagian besar segmen tubuh kecoa mempunyai lubang lateral atau lubang udara yang disebut spirakel (latin : spiraculum) yang menuju ke dalam system tubulus trackea. System trackea merupakan suatu system penyaringan atau filter yAng mencegah benda-benda kecil menyumbat system ini
Gambar :





Pada kecoa, dikenal 10 pasang spirakel, 2 pasang terletak di daerah thorax dan 1 pasang pada masing-masing segmen dari 8 segmen, mulai dari segmen pertama abdomen. Setiap spirakel memiliki sebuah katup yang berperan mengurangi hilangnya air dari cairan tubuh dan melindungi hilangnya air dari cairan tubuh, dan melindungi dari parasti, partikel-partikel dan air. Katup spirakel membuka sebagai respon dari tungginya kadar co2 di dalam hemolife. Bahkan trakea yang besar bercabang-cabang trakea yang semakin kecil. Cabang trakea yang sangat tipis adalah trakeolus yang secara umum memiliki diameter lebih kurang 0,1 µm. trakeolus berhubungan langsung dengan jaringan dan berperan mensuplai kebutuhan oksigen serta membawa karbon dioksida hasil dari metabolisme tubuh. Ujunga akhir trakeolus yang terletak pada otot atau organ lainnya berupa organ buntu yang terisi cairan. Selama otot berkontraksi konsentrasi cairan tubuh disekitar trakeolus meningkat. Keadaan ini menyebabkan cairan dalam trakeolus berdifusi keluar, sehingga membawa oksigen menuju kebagian yang memerlukan. Setelah aktifitas otot terhenti hasil-hasil metabolic akan mengubah tekanan osmotic cairan sel, akibatnya air kembali ke trakeolus. Udara keluar dan masuk kedalam trakea akibat kontraksi dan perluasan abdomen. Pada kecoa empat pasang spirakel pertama membuka saat inspirasi dan menutup pada saat ekspirasi, sedangkan enam pasang spirakel lainnya menutup pada saat inspirasi dan membuka pada saat ekspirasi.

SISTEM SARAF KECOA

System saraf pada kecoa merupakan system saraf tangga tali. Otak kecoa terletak di daerah kepala bagian dorsal, terdiri atas 3 pasang ganglion yang berfusi. Ganglion-ganglion tersebut berperan mengatur  mata, antenna dan labium.otak berhubungan denga ganglion subesophangeal melalui circumesophangeal coonective. Ganglion subesophangeal terdiri atas 3 pasang ganglion anterior dari rangkaian saraf ventral yang berfungsi bersama dan berfungsi mengatur bagian-bagian mulut. Selanjutnya kea rah posterior berhubungan dengan sepasang ganglion besar disetiap segmen thorax. Ganglion yang terdapat di dalam segmen methathorax merupakan ganglion terbesar, dan  sebebnarnya merupakan  gabungan dari ganglion segmen. Metathorax dengan ganglion segmen pertama abdomen. Di dalam abdomen terdapat 5 pasang ganglion. Pasangan ganglion pada segmen ke 2 abdomen sebenarnya merupakan gabungan dari pasangan ganglion dari segmen ke 2 dan ke 3 abdomen. Sedangkan pasangan ganglion pada segmen ke 7 merupakan gabungan dari ganglion segmen ke 7-ke 11 abdomen. Otot, saluran pencernaan, dan spirakel berhubungan dengan otak melalui system saraf simpatik.
Gambar :




Sistem saraf pada kecoa terdiri atas :
a.       Sistem saraf pusat
• termasuk di dalamnya cincin saraf,, urat saraf  ventral dan ganglia segmental.
•Cincin saraf kecoa terdapat
 di sekitar kerongkongan.
• Cincin saraf dibentuk oleh sepasang ganglia supra esofagus , sepasang sub-esofagus
ganglia, sepasang connectives sirkum esofagus yang menghubungkan diantaranya.
• Supra esofagus ganglia atau otak terdapat  di sisi dorsal esofagus. Otak adalah  saraf
sensorik dan pusat endokrin yang  melepaskan hormon • Sepasang ganglia subocsophangeal yang terletak di bawah kerongkongan. Ini adalah  sebagai pusat kontrol motor  atau penggerak yang menggerakan bagian-bagian mulut, kaki, sayap. Dan ganglia
segmental pada  kecoa terdapat 9. Diantaranya 3 yang hadir di wilayah dada dan 6 di daerah perut.
b.      Sistem saraf otonom
• Dari otak 3 pasang saraf muncul dan masuk ke mata majemuk, antena dan labium dan juga
untuk ganglion frontal.
• Sub-oesophangcal ganglia memberi dari 3 pasang saraf untuk mandibula, maxillar
dan labium.
• saraf ganglia Thoracic masuk  untuk kaki dan sayap.
• ganglia Metathoracic saraf yang meninervasi untuk segmen perut
c.       Sistem saraf perifer
·         saraf Otonom juga disebut sistem saraf somatogastric atau visceral.
·          saraf Ini mencakup 4 ganglia saraf yang menghubungkan nya . saraf ini menginervasi ke organ viseral.
·         oksipital ganglion atau ganglion Hypoccrebral – terdapat di  belakang otak dan  di atas kerongkongan.
·          ganglion Provenltricular terdapat di tenggorokan.
·         Stomatogastric saraf masuk ke sistem saraf  jantung dan organ saluran pencernaan viseral lainnya. Saraf Ini mengatur fungsi organ-organ karena itu disebut sistem saraf visceral.
Gambar :
Yang menarik pada system saraf pada kecoa adalah system senso motoris yang berbeda dibagian kepala dengan 2 antena yang berfungsi sebagai penyala getaran dan yang kedua dibagian kaki belakang yang menerus kebagian perut dengan rambut-rambut halus yang berfungsi sebagai antenna. System saraf pada kecoa berfungsi untuk mengkoordinasi otot, memonitor organ, membentuk dan juga mengehentiksn masukan dari indra dan mengaktifkan aksi. Pada kecoa , system saraf motoris somatic dan saraf motoris autonom  dapat berjalan bersamaan atau bila saraf yang terganggu maka system saraf yang lain masih dapat menjalankan fungsinya. System saraf pada kecoa lengkap dan sederhana dan kecoa memiliki kecepatan reaksi atau rangsangan yang mengagumkan yang mana untuk meloloskan diri dan bahaya, rahasianya terletak pada  dan system gerak motorik kecoa.
System saraf dan system gerak motorik kecoa ada 2, yaitu system senso motorik yang baik yang mana keduanya dapat berfungsi bersama atau juga berfungsi masing-masing tanpa tergantung system yang lain. Kecoa menunjukan kecepatan lari yang sebetulnya tidak mengagumkan, yakni hanya sekitar lima kilometer per jam. Tapi yang sangat mengagumkan, adalah kecepatan reaksi sistem senso-motoriknya dalam menanggapi rangsangan dari luar. Jika sistem penala getaran di kaki belakang atau antena di kepala mendapat rangsangan tiba-tiba, reaksinya terjadi hanya dalam waktu 15 sampai 20 milidetik. Atau lebih cepat dari kedipan mata, kecoa sudah lari dan menghilang di bawah lemari atau meja. Yang juga amat menarik, adalah dua sistem senso-motorik kecoa yang terpisah dan independen. Jika salah satu sistemnya terganggu , sistem yang lain masih tetap aktif dan berfungsi. Juga kecoa yang dipotong kepalanya, masih bereaksi secepat semula.

·         Alat indera kecoa :
Kecoa memiliki organ penglihatan, perasa, pembau, pendengaran, dan peraba. Organ penglihatan berupa oceli dan mata majemuk yang dapat membedakan gelap dan terang. Daya lihat mata majemuk ini dapat menghasilkan bayangan yang mosaic. Sedangkan oceli mungkin tidak digunakan untuk melihat obyek tetapi hanya merupakan organ yang peka terhadap cahaya. Organ pendengaran terletak di lateral tergit dari segmen pertama abdomen. Organ tersebut terdiri atas tympani yang direntang  di dalam cincin berkhitin yang bentuknya hamper bulat. Di kepala terdapat sepasang antenna yang panjangsebagai alat indera yang dapat mendeteksi bau-bauan dan vibrasi udara. Organ perasa terletak di bagian dalam mulut, dan organ peraba berupa bentukan seperti rambut yang teletak di permukaan berbagai bagian tubuh kecoa , tetapi khususnya dipermukaan antenna.
Gambar :

Selain itu pada kecoa dari ujung abdomen terdapat sepasang cerci yang juga berperan sebagai alat indera. Cerci berhubungan langsung dengan kaki melalui ganglia saraf abdomen (otak skunder) yang penting dalam adaptasi pertahanan. Apabila kecoa merasakan adanya gangguan pada cerci maka kakinya akan bergerak lari sebelum otak menerima tanda atau sinyal.

      SYSTEM PENCERNAAN KECOA

Saluran pencernaan pada kecoa pada dasarnya meliputu usus depan, usus tengah, dan usus belakang. Usus depan terdiri atas faring yang merupakan kelanjutan dari mulut dan terletak di daerah kepala yang disetiap sisinya terdapat kelenjar ludah, kemudian esophagus, yang membesar membentuk tembolok dan terletak di daerah mesothorax dan metatorax. Oragn selanjutnya adalah proventriculus yang berperan sebagai organ penggiling . usus tengah meliputi lambung yang bagian posteriornya masuk ke dalam abdomen. Pada permukaan lambung terdapat 16 kantong berbentuk kerucut yaitu gastric-ceca yang berperan menghasilkan enzim-enzim pencernaan, dan hasil sekresi ini akan diberikan ke dalam lambung . usus tengah merupakan tempat dimana terjadinya absorbs nutrisi.  sedangkan usus belakang tersusun atas usus yang membesar dan usus kecil yang meluas ke dalam rectum dan anus sebagai muara akhir saluran pencernaan. Pada ujung anterior usus besar terdapat tubulus malphigi.

Gambar :








Ø  CACING HATI (Fasciola hepatica)

1.      SYSTEM RESPIRASI CACING HATI
Secara umum respirasi pada cacing hati terjadi melalui permukaan tubuh.

2.      SYSTEM PENCERNAAN CACING HATI
alat Cacing hati memiliki alat pencernaan tetapi tidak lengkap. Susunan system pencernaan makanan hanya terdiri dari mulut, faring, esophagus dan intestine. Lubang mulut tertutup oleh alat pengisap oral (sucker). Lubang mulut berlanjut dengan rongga mulut yang berbentuk corong. Rongga mulut berlanjut pada faring yang berdinding tebal dengan lumen sempit. Dinding faring tersusun oleh otot melingkar. Faring berfungsi untuk mengisap makanan. Faring mempunyai kelenjar faringeal. Esophagus menghubungkan faring dengan intestine. Intestine bercabang dua ke kiri dan ke kanan yang membentang kea rah posterior, dan sejajar. Masing-masing cabang bercabang lagi ke arah lateralmembentuk kantung-kantung seka atau divertikula yang buntu. Cabang-cabang ini mebagi makanan ke seluruh tubuh. System pencernaan seperti ini tergolong system pencernaan gastrovaskuler. System pencernaan pada cacing hati tidak dilengkapi dengan anus.

Gambar

Digestive system of Fasciola hepatica
Makanan cacing hati sendiri beruapa darah, sel-sel yang rusak untuk cacing hati yang masih muda, sedangkan makanan cacing hati dewasa yaitu cairan empedu dan cairan limfa. Pencernaan makanan terjadi di dalam rongga sekum, oleh sebab itu pencernaannya disebut pencernaan ekstraseluler.. sari-sari makanan diserap oleh sel parenkim dan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Sedangkan makanan yang tidak dicerna dimuntahkan melalui mulut.

3.      SYSTEM SARAF CACING HATI
System saraf cacing hati berupa system saraf tangga tali. Otak terletak di bagian kepala. Otak tersusun oleh ganglion-ganglion otak yang terdiri dari dua lobus. Dari otak muncul serabut-serabut saraf kea rah anterior menuju ke kepala, dan lateral menuju ke aurikel. Di samping itu ada 2 tali saraf ventral yang memanjang sepanjang tubuh dan berakhir ke ujung posterior. Masing-masing tali saraf ventral itu terletak pada kira-kira sepertiga bagian dari tebi tubuh. Ke dua tali saraf ventral dihubungkan satu dengan yang lain oleh komisura-komisura transversal, dan pada masing-masing tali saraf muncul serabut saraf ke tepi tubuh. Adanya komisura-komisura transversal menyebabkan system saraf berbentuk tangga tali.

Gambar :


Pada cacing hati terdapat satu cincin saraf yang mengelilingi esophagus. Pada cicnci saraf tersebut terdapat dua pasang ganglion serebral kea rah dorsoventral dan satu pasang ganglion ventral yang terletak di bawah esophagus. Pada ganglion-ganglion itu muncul serabut-serabut saraf kecil kea rah anterior. Ke arah posterior terdapat 3 pasang tali saraf longitudinal yang muncul dari ganglion-ganglion tersebut yaitu tali saraf dorsal, lateral, dan ventral. Tali saraf lateral berkembang sangat baik dan  memanjang sampai ujung posterior. Tali-tali saraf itu dihubungkan satu sama lain oleh banyak komisura transversal. Pada tali saraf juga muncul serabut-serabut saraf kea rah lateral, dan beberapa serabut saraf itu membentuk pleksus. Sel-sel saraf biasanya berbentuk bipolar. Karena sifatnya yang parasit cacing hati tidak memiliki organ sensori, kecuali alat yang berbentuk bulbus yang berfungsi sebagai tango reseptor (penerima rangsangan berupa sentuhan) atau alat peraba yang berada diseluruh permukaan integument.



DAFTAR PUSTAKA

Jasin,M. 1992. Zoologi Invertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Sinar Wijaya
Kastawi, Y,dkk.. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang: Universitas  Negeri Malang Press.




0 komentar:

Poskan Komentar